Sabtu, 05 Juni 2010

AKHIR PENDERITAAN YURIE

“WAKE up!!! ” Bentak Daddy. “ Anak cewek jam segini baru bangun! Mau jadi apa kamu? Kerjaan masih bnyak yang belum selesai, cepat bangun kuras bak mandi, setrika semua pakaian dan bersihin rumah! ”perintah daddy dengan seenaknya.
“ Kalau sampai okaasan sama daddy pulang kerjaan belum selesai jangan harap kamu dapat uang saku minggu ini! ” tambah mengancam.
Yah… inilah Yurie alami setiap hari minggu jam 06.30. Yurie selalu jadi pembantu di rumahnya sendiri. Sementara okaasan, daddy, Jessy, dan Larry yang menyebalkan sedang bersenang-senang. Jessy dan Larry adalah adik tiri Yurie, bisa dilihatkan dari nama aja udah beda modelnya, Yurie berbau Jepang, sedangkan Jessy dan Larry berbau barat. Setelah otousan meninggal, okaasan nikah lagi sama Daniel Hoffman, pria berkebangsaan Inggris. Dan otomatis nama okaasan yang semula Inggrid Sawajiri, menjadi Inggrid Hoffman. Yah....benar otousannya Yurie adalah pria Jepang, Rui Sawajiri. Tapi okaasannya bukan orang Jepang melainkan orang Indonesia asli, jadi Yurie Indo-Jepang. Beda dengan Jessy dan Larry yang Indo-Inggris. Otousan meninggal waktu Yurie umur 9 tahun. Dan sekarang umur Yurie udah 17 tahun. Okaasan menikah lagi saat Yurie berunur 10 tahun, dan waktu itulah awal penderitaan Yurie dimulai.
Setiap hari Yurie bekerja tanpa henti, waktu istirahatnya hanya pada waktu sekolah dan tidur malam aja. Tapi karena Yurie adalah cewek tegar dia sanggup bertahan dengan semua ini. Dan satu-satunya alasan dia bertahan sampai saat ini adalah okaasan. Orang yang paling dia cintai di dunia ini. Tapi karena okaasan udah menutup mata dan hatinya buat Yurie, jadi okaasan gak tahu seberapa besar cinta Yurie padanya.

***

“ KAMU kenapa gak kabur aja ke tempat nenek kamu sih? ” ujar Mufi sewot. Diantara 3 sahabat Yurie Cuma Mufi yang tahu tentang masalah Yurie. Yang lainnya Cuma tahu kalau Yurie bukan anak kandung Daniel Hoffman.
“ Aku gak mau bikin mereka ngerasa menang karena udah berhasil nyingkirin aku gitu aja. ” Kata Yurie mantap.
“ Kamu masih bisa tahan yah? Kalau aku udah gak tahan lagi dari dulu. ” Kata Mufi nyerah.
“ Mufi, thanks yah udah mau jadi tempat sampah buat aku selama ini?! ” kata Yurie seraya memeluk Mufi. “ Jangan bosen dengerin aku nangis, tawa, dan marah-marah yah? ” pecah tangis Yurie dalam pelukan Mufi.
“ I’ll be there for you, babe. ” Mufi balas memeluk erat Yurie

***

SEBENARNYA Jessy dan Larry masih kecil-kecil, tapi nakalnya minta ampun. Jessy 5 tahun, sedangkan Larry 2 tahun. Setiap hari kerjaa mereka hanya merecoki Yurie bekerja. Kadang bikin asalah smpe daddy mau ngebunuh Yurie, ini beneran loh bukan Cuma mengada-ada. Padahal yang salah mereka. Pernah suatu hari Yurie tanpa sengaja membuat Jessy terluka. Dan hasilya Yurie mendapat lebam di pipi dan bibirnya’
Bukan hanya itu saja penderitaan Yurie. Yurie termasuk anak yang cerdas di sekolahna, tapi itu dulu waktu SD. Dan sekarang untuk mencapai nilai 6 saja sangat sulit rasanya. Semua waktu belajar Yure tersita utuk pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan.
Sekarang Yurie duduk di kelas XII SMA, dan beberapa minggu lagi Yurie akan menempuh Ujian Nasional. Dia butuh sekali yang namanya les atau Bimbingan Belajar seperti teman-temannya yang lain, tapi apa yang ia dapat hanya tolakan yang diikuti cacian dari daddy.
“ Buat apa les-lesan kayak gitu? Kalau bodoh, bodoh aja gak usah pakai les-les segala!!! ” bentak daddy.
“ Oh iya, kam u juga gak akan daddy kuliahin, buat apa ngabisin uang buat nguliahin kamu, lagian akhirnya kamu bakal jadi pengangguran dan jadi ibu rumah tangga kayak kebanyakan wanita ”. Mendengar hal itu kepala Yurie serasa ditimpa batu besar yang beratnya berkilo-kilo.

***

DI sekolah Yurie merasa tidak enak badan, kepalanya sangat sakit. Saat da berjalan di koridor menuju kelasnya pandangannya serasa memudar, dan gelap. Yurie pingsan.
Setelah sadar Yurie sudah ada di klinik sekolah, dan anak cowok yang duduk di sampping ranjang, Nico. Temen sekelas Yurie.
“ Koq aku bias ada di sni sih? “ Tanya Yurie heran.
“ Tadi kamu pingsan di koridor depan kelas, untung aku belum pulang, jadi aku angkat kamu ke sini deh. Kamu berat juga ya? “ jelas Nico sambil bercanda.
“ Gak ikhlas nih ceritanya? “ tanya Yurie marah.
“ Gak koq bercanda. Sekarang kamu mau kemana? Aku anterin yah? “ Nico menawari.
“ Gak usah aku bisa sendiri koq. “ kata Yurie sambil berusaha bangun dari ranjang putih klinik, tapi gak bias.
“ Yeh ni anak ditawarin gak mau, bangun aja susah gimana mau pulang? “ kata Nico sambil membantu Yurie bangun.
“ Makasih ya? “ kata Yurie tulus.
“ Sama-sama, sebagai tanda terima kasih kamu harus mau aku anterinn pulang. “ kata Nico memaksa.
“ Iya deh, itung-itug irit ongkos pulang. Hehehe,,,, “ canda Yurie.
“ Dasar!!! “ kata Nico sambil mengacak-acak rambut Yurie.
Yurie ngerasa kalau sentuhan Nico di rambut Yurie sama kayak sentuhannya otousan dulu. Sentuhan yang ia rindukan selama ini. Sentuhan yang lembut dan takkan pernah bias Yurie lupain.
“ Kenapa? Koq bengong? “ Tanya Nico yang heran melihat Yurie bengong.
“ gak apa-apa koq. “ jawab Yurie.
Di dalam mobil Nico mereka saling diam gak ada yang memulai pembicaraan. Tapi Yurie gak suka dengan situasi kayak gini, dan akhirnya dia bertanya.
“ Koq aku bisa pingsan sih? “ Tanya Yurie pda Nico.
“ Koq nanya aku sih? Kan yang pingsan kamu. “ jawab Nico heran. “ Oh iya kau sakit apa sampai pingsan kayak gitu? “ gantian Nico Tanya.
“ Gak tau, seumur-umur aku baru ngerasain tentang yang namanya pingsan. Mungkin aku Cuma kecapekan aja. “ jawab Yurie. “ Tapi akhir-akhir ini aku sering ngerasa pusing kayak gini.” Jelas Yurie pada Nico.
“ Kamu gak check-up ke dokter? “ Tanya Nico.
“ Hehehe, belum sempet, maklumlah kan aku orangnya sibuk. “ jawab Yurie bercanda, inilah yang dilakuin Yurie di luar rumah, menutupi keadaannya yang sebenarnya. Dia gak pengen semua orang tau kalau hidupnya menderita. Cuma Mufi yang tau penderitaannya.
“ Dasar udah pingsan kayak gitu masih sempet bercanda. “ kata Nico sambil mengacak-acak rambut Yurie lagi. Gak tau lama-lama Yurie merasa senang kalau rambutnya diacak-acak Nico, kayak ada otousan di sini pikir Yurie.
“ Gimana kalau sekarang aku anterin kamu check-up? “ kata Nico menawari Yurie.
“ Gak usah gak apa-apa koq. Aku bisa check-up sediri. “ kata Yurie menolak tawaran Nico sopan.
“ Gak mau? Oom aku dokter loh. Jadi bisa ngirit ongkos check-up. “ kata Nico menggoda Yurie. “ Iya udah berhubung kamu diam berarti kita ke kliniknya oom aku sekarang. “ kata Nico sambil memutar balik arah yang mereka tuju.
“ Nico koq kamu gitu sih? “ Tanya Yurie gak suka. “ Aku kan gak bilang kalau aku mau, lagian kan aku udah bilang kalau aku mau check-up sendiri. “ kata Yurie marah pada Nico.
“ Aku gak mau kamu kenapa-kenapa Yurie. “
“ Apa urusan kamu kalau aku kenapa-kenapa? “ Tanya Yurie marah.
“ Jelas itu urusan aku, Karena aku suka sama kamu rie,,, “ kata Nico kelepasan bicara. Nico menepikan mobilnya. “ Maaf kalau aku ngomong kayak gitu, tapi itu emang perasaannya aku sama kamu dari dulu. Au mendem iini, karena aku gak mauu kamu benci sama aku gara-gara aku suka sama kamu dan kamu bakal ngejauhin aku. “ kata Nico sambil nunduk gak berani menatap mata Yurie.
***

DAN akhirnya mereka berdua jadian, dan kemarin Nico langsumg nganterin Yurie check-up. Sekarang mereka lagi nunggu hasilnya di kliniknya oomnya Nico.
“ Kira-kira aku sakit apa ya? “ Tanya Yurie pada Nico. “ Ah…palingan Cuma sakit kepala biasa. “ katta Yurie nenangin diri.
“ Jangan khawatir kamu pasti baik-baik aja. “ kata Nico ngehibur Yurie.
“ Kalian udah datang? “ Oom Andre muncul dari ruangannya. “ Ayo masuk ke ruangan oom! “ ajaknya.
Setelah mereka duduk, oom Andre mulai menjelaskan apa penyakit yang didera Yurie. Awalnya Yurie gak percaya. Tapi memanglah itu takdir Tuhan. Yurie mengidap kanker otak stadium 4 dan itu adalah penyakit yang menyebabkan otousa meninggal. Yurie hanya bisa mendengar hal itu. Dan ternyta dia sudah mulai merasakan gejalanya saat dia duduk di bangku SMP. Nico sama kagetnya dengan Yurie, tapi dia berusaha tegar, agar bisa menghibur Yurie.
Berarti waktu aku tinggal sebentar lagi, pikir Yurie dalam hati. Setelah meminta oom Andre dan Nico untuk tidak memberitahukan pada yang lain Yurie meminta Nico mengantarknnya pulang.

***

HARI kelulusan tiba, Yurie dan Nico lulus dengqn nilai yang cuup bagus, Yurie angat senang dengan hasil nilainya, dia merasa okaasan akan puas karenanya. Tanpa terasa dia bsa ngelaluin hari-hari yang menyakitkan untu mencapai hari ini. Setelah ini dia ikhlas Tuhan akan mengambilya kembali.
Dia ingin sekali cepet-cepet pulang ke rumah, dan nunjukin semuanya ke okaasan, sesampainya di rumah apa yang ia dapatkan?
“ Apa ini? “ teriak daddy sambil memegang botol obat-obatan Yurie.
Mati aku, daddy nemuin itu semua. Pandangan Yurie mulai kabur dan kepalanya mulai sakit, dan sakit yang ini lebih sakit dari yan selama ini Yurie rasain.
“ Okaasan nemuin itu di kamar kamu, jadi selama ini kamu mengonsumsi obat-obatan gak jelas ini? “ Tanya okaasan.
“ Jawab!!! “ bentak daddy.
Setelah itu Yurie tidak tau apalagi yang terjadi.

***

YURIE mendengar apa yang mereka semua bicarakan, tapi dia tak bisa bergerak dan membuka mata. Dia mendengarkan suara oom Andre yang sedang membicarakan penyakitnya dengan daddy dan okaasan, dia mendengar okaasa menangisi dirinya, mencium pipinya, tangannya. Dan dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia mendengar okaaan marah sama daddy, dia bilang semua ini salah daady yang terlalu keras sama Yurie, dari jawaban daddy, dia terdengar sangat menyesal. Dia mendengar Jessy dan Larry menangis bersamaan, mereka bertanya kenapa Yurie tidur terus dan tak bangun. Dia juga mendengar suara Mufi dan yang lain, mereka menjenguk Yurie, mereka semu menangis.
Kalian kenapa nangis? Aku masih di sini sama kalian. Aku belum meninggal. Kata batin Yurie.
Tak lama kemudian dia mendengar suara Nico, orang yang selalu setia menemaninya selama ini. Yurie merasakan setuhan bibir lembut Nico mencium bibirnya. Dia cuma bisa menangis melihat semua orang yang dia sayangin bersedih karena dia. Dia berharap setelah dia pergi tak ada lagi orag bersedih. Dan semuanya berubah menjadi gelap. Dia telah pergi. Yurie telah pergi meninggalkan semuanya.

*****

I'm not the princess in fairy tales

Aku bukan SNOW WHITE yang dicium pangeran, lalu bangun dari kematian yang direkayasa ibu tirinya.
Aku bukan CINDERELLA yang berasal dari upik abu, lalu menikah dengan pangeran dan hidup bahagia selamanya.
Aku bukan ARIEL yang rela berubah jadi manusia, dan meninggalkan laut untuk mencari pangeran yang dicintainya.
Aku bukan JASMINE yang mau memaafkan pangeran palsu, gara-gara cintanya.


Aku hanya gadis biasa yang mengharapkan pangeran datang dalam hidupku yang kelam ini.

Jumat, 28 Mei 2010

HUJAN

Hujan...
Indah
Tapi ada kalanya mengerikan
Petir menari-nari dari atas awan menyambar tanah
Memekakkan telinga
Dingin menyeruak menusuk tulang

Tapi buatku hujan tetap indah
Aroma tanahnya
Gemuruh airnya
Semilir anginnya

Basah memang,tapi hatiku merasa segar karenanya
Karena setiap hujan turun, beban di benak, hati dan pundakku serasa turun juga
Walaupun gak mengurangi, tapi lebih meringankan

Hujan selalu kunanti
kalau dia gak turun, tak dapat kupastikan apa yang akan trjadi nantinya



Miii

Rabu, 14 April 2010

it's so complicated

kacau hidupku sekarang,,,
bener-bener kacau. RUMIT!!kapan mua ni bakalan berakhir? ku udah capek banget nih...
aku udah positif gak kuliah, dan sekarang mereka bilang gak mau nyekolahin adikku juga.
gila mereka....
bener-bener GILAAAAAAAAAAA....................

Jumat, 02 April 2010

aku capek,,,,,

gak tau kenapa ku udah sanggup age menahan semua ini sendiri.
ada gak ea orang yang mau nemenin aku?

Tuhan tolong kirimkan aku orang itu.
mungkin ini adalah cobaan darimu, dan aku akan berusaha untuk menerima semuanya.
dan aku yakin semua akan indah pada waktunya...........

Selasa, 17 November 2009

I Feel It,,, Again!!!

TUTUTUTUT tutututut tutututut

Alarm di Hp Naomi berbunyi. Yah…tepat pukul 17.00 WIB, waktunya jemput Domie, adik perempuan Naomi. Hari ini adalah jadwal karate Domie.

“ Oouuuwampffzzzz….! ” Naomi menguap dengan mulut yang sangat lebar sambil menggeliat di dalam selimutnya yang bermotif Tazmania.

“ Dasar Domie ganggu tidur siangku aja! ” Gerutu Naomi sambil turun dari ranjangnya yang penuh dengan boneka Tazmania dan mengenakan sandal rumahnya yang juga Tazmania. Naomi memang TAZzholic (pecinta Tazmania) sejati.

“ Anak cewek, masih kecil, ikut – ikutan karate kayak gitu. Mau jadi apa nanti? Preman? ” Naomi dan Domie memang beda jauh. Naomi lebih suka berdiam diri di kamar sambil baca teenlit atau komik. Sementara Domie, gadis kecil berumur 7 tahun ini sangat tomboy, lincah dan ceria. Seperti Naomi 10 tahun lalu.


#@#


“ KAK…! ” Panggil Domie sambil berlari kecil kearah Naomi. Keringatnya yang mengucur deras tak menghalangi semangatnya.

“ Udah selesai latihannya? ” Naomi bertanya pada Domie. Dan ternate Domie tidak sendirian, di belakangnya ada cowok yang sangat tampan, ganteng, menawan dan rupawan (lebay banget gak sih? Tapi emang kenyataannya gitu.). Dia mengenakan seragam yang sama seperti yang dikenakan Domie, namun beda di ikat pinggangnya aja.

“ Hai…! ” Sapa si cowok pada Naomi.

“ Oh ya kak, kenalin ini Kak Alan, pelatihku. ”Domie mengenalkan Alan dengan antusias. Alan mengulurkan tangannya.

“ Naomi…, kakaknya Domie ” Naomi menyambut uluran tangan Alan. Mendadak pipinya terasa panas. Dia malu rupanya. Sudah lama dia tidak merasa malu sama cowok setelah 10 tahun yang lalu.

“ Kak Alan ini orangnya baik lho! Dia juga mahasiswa di ITB, domie udah bilang ke Kak Alan kalau kakak juga pengen kuliah di sana. ”cerita Domie antusias.

“ Domie apaan sih?! Kamu cerita apa aja ke Kak Alan? ” Sergah Naomi.

“ Domie gak cerita macem – macem koq, dia Cuma cerita kalau dia punya kakak yang cantik, pinter, baik hati kayak kamu. ” Naomi merasa panas di pipinya sampai ke ubun – ubun.

“ Ciee…muka kakak merah tuh, kayak kepiting rebus. Baru diomongin kayak gitu sama Kak Alan. ” Domie meledek Naomi sambil berlari dan menghindar dari amukan Naomi.

“ Maaf ya Kak Alan, kami permisi dulu. ” Pamit Naomi dengan malu yang tak terkira.

“ Domie… !” Teriak Naomi mengejar Domie. Alan hanya bias tersenyum melihat pemandangan tersebut.


#@#


SETELAH perkenalannya dengan Alan yang sangat memalukan, Naomi tidak pernah mau menjemput Domie dari latihan karatenya. Walaupun dia sangat menginginkan melihat wajah Alan lagi. Tapi tanpa perkiraannya, justru Alanlah yang mengantar Domie pulang. Jadi Naomi bisa melihat Alan lagi.

“ Hai…! ” Sapa Alan dan menghampiri Naomi yang sedang duduk di ayunan di taman rumahnya.

“ Ha…hai juga! ” Jawab Naomi gugup, “ gimana latihannya? ” Tanya Naomi basa – basi.

“ Baik, Domie cepet banget belajarnya. ” Jawab Alan seadanya. Dari dalam rumah muncul Domie yang telah mengganti seragam karatenya dengan kaos biasa.

“ Kak anterin Domie ke toko buku yuk! “ Pinta Domie.

“ Tapi kakak gak bisa lama – lama,” Naomi menjawab sungkan.

“ Ya udah, gimana kalau kalian aku yang antar? ” Kata Alan menawari.

“ Yeah…Kak Alan baik deh. Yuk kak!” Domie menarik tangan Alan dan Naomi.

#@#


SESAMPAINYA di Mall favorit Naomi, ternyata Domie berubah pikiran.

“ Kak aku pengen ke Pondok Coklat.” Domie merengek dan menarik – narik tas selempang Naomi yang tentunya Tazmania (dasar maniak Tazmania!) sambil menunjuk – nunjuk cafĂ© langganan Naomi.

“ Domie kita ke sini kan mau beli buku, bukannya makan coklat. Ntar kalau mama marah gimana? Kita bakalan pulang malam kalau kamu makan.” Nasehat Naomi panjang pendek.

“ Gak apa –apa kan ada Kak Alan yang nemenin kita.” Domie memanfaatkan Alan.
“ Ya udah mi, turutin aja daripada ntar ngamuk di sini kan repot.” Yang dimanfaatkan malah ngebelain.

“ Okey…aku yang ngalah, selalu aku yang ngalah.” Akhirnya menerima dengan tidak ikhlas.

“ Yeah…” teriak Domie sambil jejingkrakan.

Ternyata di Pondok coklat sangat sepi, tak ada orang selain mereka bertiga.

“ Koq sepi gini? Padahal kan di luar kan rame” Naomi kaget setelah masuk, ternyata Pondok Coklat emang sepi banget.

“ Gak tau, mungkin udah di booking orang kali.” Jelas Alan

“ Ya udah kalau gitu kita ke toko buku sekarang!” Naomi menarik tangan Domie. Namun langkahnya terhenti setelah mendengar lagu yang sanggup menenangkan hatinya.


#@#


Tiba – tangan Alan menggenggam tangan Naomi.

“ Mi, sebelum kita kenalan secara formal 2 minggu lalu, aku udah kenal sama kamu sejak dulu. Dan satu-satunya cara buat ketemu kamu dalah menyuruh Domie buat nyuruh kamu jemput dia.” Alan berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

“ Dan aku mulai suka sama kamu, bahkan cinta sama kamu saat kamu nolongin aku dari gangguan anak–anak nakal di kompleks perumahan kamu 10 tahun lalu.”

“ Kamu Dharma?”

“ Ya aku Dharma. Alan Setya Dharma. Masih ingat aku?” Tanya Alan lembut.

“ Kamu jahat! Naomi mulai menangis “ Kamu ninggalin aku sendiri di Bandung, sementara kamu pindah ke Amerika gak bilang–bilang.” Naomi memukuli dada Alan dan tangisnya semakin deras. Alan mengusap tangis di pipi Naomi.

“ Maafin aku, aku gak bermaksud buat ninggalin kamu, tapi aku sekarang udah di sini lagi kan? Dan aku bukan cowok yang perlu kamu tolongin lagi. So, could you be my girlfriend, my princes” ungkap cinta Alan.

With pleasure, my prince.” Terima Naomi seraya memeluk Alan.

“ Ehm…ntar mama marah pulangnya kemaleman gara – gara kalian pelukan di sini berjam–jam” kata Domie merusak momen indah Naomi dan Alan.


#@#


“Me”-Ya